Cerpen Menggapai Mimpi Oleh : Rani Aila

Menggapai Mimpi

Pagi hari yang cerah, yang tidak perna mengizinkan mereka yang lemah untuk menjalani hidup lebih baik. Yang tidak pernah memperdulikan mereka yang kotor dan menjijikkan dan tidak pernah memandang mereka yang sedang berjuang untuk menyamai mereka yang sedang kamu rendahkan karena kedudukan ataupun jabatan.

Perkampungan kumuh yang hanya dipenuhi dengan gundukan sampah yang menjijikkan, anak-anak yang berlarian dengan baju yang sudah tidak layak lagi untuk dipakai, pakaian yang sangat kotor dan lusuh dengan wajah yang tidak penah menampakkan kesedihan. Di kerumpulan anak-anak itu tedapat satu gadis kecil cantik yang duduk dibawa pohon sambil membawa buku yang dia ambil dari tempat sampah, buku yang dibuang oleh pemiliknya.dia terlihat serius untuk membuka lembaran buku tersebut agar dapat dibaca. Dia sangat bahagia karna bisa belajar dari buku tersebut.

Gadis kecil yang cantik itu bernama difa. Gadis kecil itu berumur tujuh tahun, senyuman yang tak pernah pudar dari bibinya, meski dengan baju kotor dan penuh dengan keringat yang menjadi satu tidak pernah menjadikan alasan dia untuk mengeluh. Difa memiliki keinginan yang besar yaitu dia ingin bersekolah agar kelak dia bisa membahagiakan ibunya karena disaat dia berumur empat tahun ayahnya sudah meninggal dunia. Selain itu dia juga berkeinginan jika dia ingin membuat perpustakaan agar anak-anak kecil di perkampungannya bisa membaca meskipun mereka kekurangan biaya mereka harus tetap belajar. Tapi ibu difa tidak mendukung keinginan difa karena ibunya berfikir bahwa biaya untuk sekolah tidaklah sedikit ibunya tidak memiliki biaya untuk menuruti keinginan difa. Karena yang dipikirkan ibunya hanyalah bagaimana bisa mencari uang dan mendapatkan sesuap nasi. Setiap hari ibunya hanya terus menyuruh difa untuk memulung memulung sampah.

Penah suatu saat dengat terik yang begitu menyengat, difa melakukan Aktifitasnya yaitu memulung sampah. Dengan senyum yang tidak pernah pudar, dia selalu bersemangat untuk mengambil sampah-sampah tersebut. Karena pagi tadi dia tidak bersarapan dia tidak memiliki sepeserpun uang untuk membeli makan dia merasah lemas dan lelah akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat. Saat beristirahat dalam hati kecil difa berkata “semoga difa suatu saat nanti akan sukses”. Bukan hanya untuk membeli makan bahkan difa akan berbagi kepada merka yang bernasib sama dengan difa.

Pagi hari ini difa berangkat dengan bersemangat, dia berkeinginam mampir ke sekolah yang biasanya dia lewati ketika pergi memulung. Meskipun setiap hari dia harus mendapat bentakan dari ibunya, difa selalu tersenyum menanggapi ibunya. Dulu ibu difa adalah orang yang sangat sabar dan lemah lembut tapi ibunya berubah sejak ayahnya meninggal.

Setelah karung yang dia bawa sudah terisi penuh dia pergi menuju sekolah dasar yang sering dia datangi. Dia berharap agar dapat masuk ke perpustakaan sekolah itu tapi sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa. begitu senangnya difa bisa melihat jajaran buku yang tertata rapi meskipun  hanya bisa melihat dari gerbang difa sudah senang. Pasti jika dia masuk kesana dia akan diusir oleh penjaga. Difa memutuskan pulang setelah mampir ke sekolah tersebut.

 

Disore hari difa meminta izin kepada ibunya agar sore ini dia tidak pergi memulung. Karena siang tadi difa mendapat hasil yang banyak, dia diperbolehkan untuk tidak pergi memulung. Difa ingin membaca buku-buku yang ia dapatkan dari hasil memulung tadi siang.

Keesokan harinya difa pergi kembali ke sekolah tersebut, sesampainya digerbang sekolah tersebut difa tidak sengaja melihat kertas ujian yang terjatuh. Difa pun menjawap soal yang ada di kertas itu. Ketika dia sedang asik mengerjakan soal tesebut ada guru yang memergoki difa. Difa terkejut dia meminta maaf dan mengembalikan kertas itu lalu dia pergi untuk pulang. Sepulangnya difa guru tersebut terkejut karena hampir semua soal yang dikerjakan difa benar.

Keesokan harinya guru yang memergoki difa menunggu di gerbang sekolah berharap agar difa datang lagi kesana. Tapi sayangnya difa tidak datang ke sana karena dia takut jika dia kembali lagi kesana dia akan dimarahi. Setelah seminggu lamanya difa kembali lagi ke sekolah tesebut benar yang dia duga, guru yang memergokinya ada disana. Guru itu datang kepada difa guru itu kagum karena jawaban difa hampir semuanya benar. Guru itu menawarkan sekolah gratis kepada difa dan difa mengajak guru itu ke rumah difa. Mereka berdua berjalan kaki menuju rumah difa.

Dalam keadaan yang sangat gembira difa ingin menceritakan pada ibunya. Belum selesai difa bercerita ibunya sudah memarahi, jika difa bersekolah biaya yang dikeluarkan akan bertambah banyak meskipun itu gratis dan juga tidak ada yang membantu ibunya memulung sampah untuk mencari uang. Difa bersedih karena tidak diperbolehkan sekolah oleh ibunya. Lalu guru tersebut meyakinkan ibu difa bahwa sekolah sangatlah penting bagi anak seumuran difa masa depanya masih sangat panjang. Dan ibu difa memperbolehkan difa untuk bersekolah difa sangat senang mendengar perkataan ibunya.

Keesokan harinya difa pergi berangkat kesekolah. Sejak saat itu ibu difa sadar bahwa masa depan difa sangatlah penting. Karena kerajinan dan kepandaian difa dia terus bisa mendapatkan sekolah gratis. Saat ini difa kecil sudah tumbuh menjadi wanita yang sukses dia sudah masuk perguruan tinggi dan dia bisa mewujudkan keinginanya yaitu membangun perpustakaan di perkampungannya.ibu difa sangat bangga difa benar benar bersungguh- sungguh untuk mewujudkan mimpinya.

Selesai

penulis

 

Rani Aila


 


 

 


 

























































































 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keterampilan Membaca Kelas XI, Oleh : Tareza Amalia

Keterampilan Membaca Kelas XI, Oleh : Firyal

Keterampilan Membaca Kelas XI, Oleh : Miftahul Farhad Abbas