Akad Riba (Rukma)
AKAD RIBA
Lafadz riba dengan huruf alif maqshuroh
menurut bahasa berarti tambahan. Dan menurut istilah syara’ adalah menukar
suatu dagangan lain yang disaat akad berlangsung tidak di ketahui kesetaraan
antara keduanya dalam mi’yar/pernyataan menurut syara’ atau disertai dengan
penundaan dalam keduanya ataupun hanya dalam salah satunya. Akad riba hukumnya
haram. Akad ini terjadi pada emas perak dan makanan. Yang dimaksud makana
(dalam pasal ini) adalah benda yang umumnya sengaja dimakan untuk kekuatan
badan, makanan ringan, atau untuk obat.
Dalam akad riba tidak boleh menukar emas dengan perak kecuali
1.
Setara atau sama (dalam kadarnya)
2.
Seketika. (Langsung dan saling di serahkan )
Rukun dalam Akad Dalam ajaran Islam suatu akad akan menjadi
sah apabila terpenuhi syarat dan rukun akad itu sendiri. Rukun yang membentuk
akad ada empat, yaitu : a. Para pihak yang membuat akad (al-aqidain)
b. Pernyataan khendak para
pihak (shigat aqad)
c. Objek akad
(mahallul aqad )
d. Tujuan akad (maudhu
aqad)
# Hendi Suhendi mengatakan bahwa rukun akad
adalah: a. Aqidain ialah orang yang berakad
b. Ma’qud alaih ialah
benda-benda yang diakadkan
c. Maudhu al-aqd tujuan atau maksud pokok mengadakan akad
d. Shigat al-aqd ijab dan kabul, ijab adalah permulaan penjelasan
yang keluar dari salah seorang yang berakad sebagai gambaran kehendaknya dalam
mengadakan akad, sedangkan kabul ialah perkataan yang keluar dari yang berakad
pula yang diucapkan setelah adanya ijab.
# Syarat dalam akad
Syarat secara bahasa berarti tanda yang dapat membedakan dari yang lain. Dalam
konteks kontrak, para fuqaha mengartikan syarat dengan semua hal yang mengikuti
yang lain baik ada maupun tidak diluar isi pokonya. Dengan demikian, syarat
merupakan sesuatu yang harus ada sebelum dan ketika kontrak berlangsung.
Oleh : Rukma
SMA Islam Annuuru Tirtoyudo
Komentar
Posting Komentar